Diperkosa 2 Polisi Bengal Lagi Sange

Obat Tradisional
Underground18plus.blogspot.com - Diperkosa 2 Polisi Bengal Lagi Sange

Cerita Dewasa : Ketika saya pertama kali melihat Melisa, rasanya seperti saya sedang melihat seorang model dari Jakarta, kemudian parasnya yang menawan juga membuatnya cocok untuk menjadi bintang sinetron Abad 21. 

Melisa baru berumur 17 tahun. Cantik, kulitnya putih mulus, ramah, dan yang paling menarik perhatian orang-orang adalah buah dadanya yang bundar dan padat berisi. Semua orang yang menatap Melisa pandangannya akan langsung tertarik ke arah buah dadanya yang membusung. 

Tidak terlalu besar memang, tapi sangat proporsional dengan tubuh dan wajah Melisa. Saya berkenalan dengannya, pertama melalui surat kemudian bertemu, sesekali menelepon dirinya. Lama-kelamaan kita semakin sering bertemu dan percakapan yang ada semakin menjurus ke hal-hal yang pribadi. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengajaknya keluar makan malam.

Suatu hari saya memberanikan diri untuk mengajaknya dan ternyata Melisa senang sekali mendengar ajakan saya, dan langsung setuju. Saya gelisah sekali menunggu pada saat menjemput Melisa di rumahnya.

Setelah pulang kerja dan berganti pakaian saya menjemput Melisa, untuk kemudian makan malam di sebuah restoran. Di sana kami bercakap-cakap panjang lebar, setelah itu dilanjutkan sebuah diskotik untuk sedikit menggoyangkan tubuh dan minum. 

Di tengah-tengah percakapan di diskotik, Melisa mengajak saya untuk kembali ke rumahnya dan melanjutkan sisa malam itu di rumahnya. Bagaimana saya bisa menolak tawaran itu?

Sepanjang perjalanan pulang Melisa berkata bahwa ia belum pernah mengalami hari yang menyenangkan seperti yang baru ia alami malam itu, dan ia juga berkata, di rumah nanti giliran dirinya yang akan membuat diri saya tidak akan melupakan malam ini.

Saya begitu bergairah dan berhasrat untuk lekas-lekas sampai ke rumah Melisa, ketika tanpa sadar saya mengendarai mobil melebihi batas maksimal kecepatan di jalan. Tiba-tiba saya tersadar ketika di sebelah kanan sudah ada mobil Polantas yang berusaha menghentikan mobil saya. 

Saya meminggirkan mobil di tempat parkir sebuah toko dan menunggu Polantas tadi mendekati mobil kami. Ia bertanya hendak ke mana kami sampai-sampai kami membawa mobil itu melebihi batas kecepatan. Rupanya alasan saya tidak masuk akal sehingga Polantas tadi meminta STNK dan SIM saya.

Setelah melihat surat-surat itu Polantas itu menjengukkan kepalanya ke dalam mobil kami dan lama sekali mengamati Melisa yang duduk terdiam. "Anda harus meninggalkan mobil Anda di sini dan ikut saya ke kantor", perintah Polantas tadi. Akhirnya sepuluh menit kemudian kami sampai ke sebuah kantor polisi yang terpencil di pinggir kota.

Waktu itu sudah lewat pukul 11 malam, dan dalam kantor polisi itu tidak terdapat siapa pun kecuali seorang Sersan yang bertugas jaga dan Polantas yang membawa kami. Ketika kami masuk, Sersan itu memandangi tubuh Melisa dari bawah hingga ke atas, kelihatan sekali ia menyukai Melisa. Kami dimasukkan ke dalam sel terpisah, saling berseberangan.

Sepuluh menit kemudian, Polantas yang berumur sekitar 40-an dan berbadan gemuk dan Sersan yang tinggi besar berbadan hitam, dan umurnya kira-kira 45 tahun kembali ke ruang tahanan. Polantas tadi berkata, "Kalian seharusnya jangan mengemudi sampai melebihi batas kecepatan yang ada. 

Tapi kita semua bener-benar kagum, soalnya dari semua yang kami tangkap baru kali ini kita dapat orang yang cantik seperti kamu." Sersan tadi menimpali, "Betul sekali, dia bener-bener kualitas nomer satu!" Saya sangat takut mendengar nada bicara mereka, begitu juga Melisa yang terus-menerus ditatap oleh mereka berdua.

Mereka lalu membuka sel Melisa dan masuk ke dalam. "Sekarang denger gadis manis, kalau kamu berkelakuan baik, kita akan lepasin kamu dan pacar kamu itu. Mengerti!" Sersan tadi langsung memegangi kedua tangan Melisa sementara Polantas menarik kaos yang dikenakan Melisa ke atas. Dalam sekejap seluruh pakaian Melisa berhasil dilucuti tanpa perlawanan berarti dari Melisa yang terus dipegangi oleh Sersan. 

"Wow, lihat dadanya." Melisa terus meronta-ronta tanpa hasil, sementara Sersan yang tampaknya sudah bosan dengan perlawanan Melisa, melemparkan tubuh Melisa hingga jatuh telentang ke atas ranjang besi yang ada di sel Melisa. Dan dengan cepat diambilnya borgol dan diborgolnya tangan Melisa ke rangka di atas kepala Melisa.

Kemudian mereka dengan leluasa menggerayangi tubuh Melisa. Mereka meremas-remas dan menarik buah dada Melisa, kemudian memilin-milin puting susunya sehingga sekarang buah dada Melisa mengeras dan puting susunya mengacung ke atas. Kadang mereka mengigit puting susu Melisa, sedangkan  Melisa hanya bisa meronta dan menjerit tak berdaya.

Saya berdiri di dalam sel di seberang Melisa tak berdaya untuk menolong Melisa yang sedang dikerubuti oleh dua orang itu. Kedua polisi itu lalu melepaskan pakaian mereka dan terlihat jelas kedua batang kemaluan mereka sudah keras dan tegang dan siap untuk memperkosa Melisa. 

Polantas mempunyai batang kemaluan paling tidak sekitar 25 senti, dan Sersan mempunyai batang kemaluan yang lebih besar dan panjang. Melisa menjerit-jerit minta agar mereka berhenti, tapi kedua polisi itu tetap mendekatinya.

"Lebih baik kamu tutup mulut kamu atau kita berdua bisa bikin ini lebih menyakitkan daripada yang kamu kira." kata Polantas.

"Sekarang mendingan kamu siap-siap buat muasin kita dengan badan kamu yang bagus itu!"

"Dia pasti sempit sekali", kata Sersan sambil memasukan jari-jarinya ke lubang kemaluan Melisa.
Ia menggerakkan jarinya keluar masuk, membuat Melisa menggelinjang kesakitan dan berusaha melepaskan diri.

"Betul kan, masih sempit sekali."

Kemudian Polantas tadi naik ke atas ranjang di antara kedua kaki Melisa. Kemudian mereka membuka kaki Melisa lebar-lebar dan Polantas memasukkan batang kemaluannya ke dalam lubang senggama Melisa. 

Melisa mengeluarkan jeritan yang keras sekali, ketika perlahan batang kemaluan Polantas membuka bibir kemaluan, dan masuk senti demi senti tanpa berhenti. Kadang ia menarik sedikit batang kemaluannya untuk kemudian didorongnya lebih dalam lagi ke lubang kemaluan Melisa.

Sementara itu, Sersan naik dan mendekati wajah Melisa, mengelus-elus wajah Melisa dengan batang kemaluannya. Mulai dari dahi, pipi kemudian turun ke bibir. Melisa menggeleng-gelengkan kepalanya agar tidak bersentuhan dengan batang kemaluan Sersan yang hitam.

"Ayo dong manis, buka mulut kamu", kata Sersan sambil meletakkan batang kemaluannya di bibir Melisa.

"Kamu belum pernah ngerasain punya polisi kan?" Melisa tak bergeming.

"Buka!" bentak Sersan.

"Buka mulut kamu, brengsek!" Perlahan mulut Melisa terbuka sedikit, dan Sersan langsung memasukkan batang kemaluannya ke dalam mulut Melisa.

Mulut Melisa terbuka hingga sekitar 6 senti agar semua batang kemaluan Sersan bisa masuk ke dalam mulutnya. Batang kemaluan Sersan mulai bergerak keluar masuk di mulut Melisa, saya melihat tidak semua batang kemaluan Sersan dapat masuk ke mulut Melisa, batang kemaluan Sersan terlalu panjang dan besar untuk bisa masuk seluruhnya dalam mulut Melisa. 

Ketika Sersan menarik batang kemaluannya terlihat ada cairan yang keluar dari batang kemaluannya. Julurin lidah kamu!" Melisa membuka mulutnya dan mengeluarkan lidahnya. Sersan kemudian memegang batang kemaluannya dan mengusapkan kepala batang kemaluannya ke lidah Melisa, membuat cairan kental yang keluar tadi menempel ke lidah Melisa.

"San, dia nggak mungkin bisa masukin punya Sersan ke mulutnya, biar saya coba. Gantian!" Mereka kemudian bertukar tempat, Sersan sekarang ada di antara kaki Melisa dan Polantas berjongkok di dekat wajah Melisa. 

Sersan mulai mendorong batang kemaluannya masuk ke liang senggama Melisa. Terlihat sekali dengan susah payah batang kemaluan Sersan yang besar itu membuka bibir kemaluan Melisa yang masih sempit. Polantas, mengacungkan batang kemaluannya ke mulut Melisa. 

"Kamu mungkin nggak bisa masukin punya Sersan ke mulut kamu, tapi kamu musti ngerasain punya saya ini, seluruhnya." 

Dengan kasar ia mendorong batang kemaluannya masuk ke mulut Melisa, sampai akhirnya batang kemaluan itu masuk seluruhnya hingga sekarang testis Polantas berada di wajah Melisa. Ia kemudian menarik batang kemaluannya sebentar untuk kemudian didorongnya kembali masuk ke tenggorokan Melisa. Setelah lima kali, keluar masuk, Polantas sudah tidak bisa lagi menahan orgasmenya.

"Saya keluuarrhh. Aaahhh!" Ia tidak menarik batang kemaluannya keluar dari mulut Melisa, batang kemaluannya tampak bergetar berejakulasi di tenggorokan Melisa, menyemprotkan sperma masuk ke tenggorokannya. 

Saya mendengar Melisa berusaha menjerit, ketika sperma Sersan mengalir masuk ke perutnya. Terlihat sekali Sersan yang sedang mencapai puncak kenikmatan tidak menyadari Melisa meronta-ronta berusaha mencari udara.

"Iyya... yaah! Telleeen semuaa! Aaahhh... aahhh... nikhmaattt!"

Ketika selesai ia menarik keluar batang kemaluannya dan Melisa langsung megap-megap menghirup udara, dan terbatuk-batuk mengeluarkan sperma yang lengket dan berwarna putih. Melisa berusaha meludahkan sperma yang masih ada di mulutnya. Polantas tertawa melihat Melisa terbatuk-batuk, 

"Kenapa? Nggak suka rasanya? Tenang aja, besok pagi, kamu pasti sudah terbiasa sama itu!"

Sementara Sersan yang masih mengerjai kemaluan Melisa sekarang malah memegang pinggul Melisa dan membalik tubuh Melisa. Melisa dengan tubuh berkeringat dan sperma yang menempel di wajahnya tersadar apa yang akan dilakukan Sersan pada dirinya, ketika dirasanya batang kemaluan Sersan mulai menempel di lubang anusnya.

"Jangan Pak, jangan! Ampun Pak, ampun, jangan..."

"Aaahkk! Jangaaan!"

Melisa menjerit-jerit ketika kepala batang kemaluan Sersan berhasil memaksa masuk ke liang anusnya. Wajah Melisa pucat merasakan sakit yang amat sangat ketika batang kemaluan Sersan mendorong masuk ke liang anusnya yang kecil. 

Sersan mendengus-dengus berusaha memasukkan batang kemaluannya ke dalam anus Melisa. Perlahan, senti demi senti batang kemaluan itu tenggelam masuk ke anus Melisa. Melisa terus menjerit-jerit minta ampun ketika perlahan batang kemaluan Sersan masuk seluruhnya ke anusnya. 

Akhirnya ketika seluruh batang kemaluan Sersan masuk, Melisa hanya bisa merintih dan mengerang kesakitan merasakan benda besar yang sekarang masuk ke dalam anusnya.

Sersan beristirahat sejenak, sebelum mulai bergerak keluar masuk. Kembali Melisa menjerit-jerit. Sersan terus bergerak tanpa belas kasihan. Batang kemaluannya bergerak keluar masuk dengan cepat, membuat testisnya menampar-nampar pantat Melisa. 

Sersan tidak peduli mendengar Melisa berteriak kesakitan dan menjerit minta ampun ketika sodomi itu berlangsung. Saya melihat berulang kali batang kemaluan Sersan keluar masuk anus Melisa tanpa henti. 

Akhirnya Sersan mencapai orgasme ia menarik batang kemaluannya dan sperma menyemprot keluar menyembur ke punggung Melisa, kemudian menyembur ke pantat Melisa dan mengalir turun ke pahanya, dan terakhir Sersan kembali memasukkan batang kemaluannya ke anus Melisa lagi dan menyemprotkan sisa-sisa spermanya ke dalam anus Melisa. 

Sersan kemudian melepaskan pegangannya dari pinggul Melisa dan berdua dengan Polantas mereka keluar dari sel dan menguncinya. Saya masih dapat mendengar Sersan berkata pada Polantas, "Pantat paling hebat yang pernah ada. Dia bener-bener sempit!"

Dini hari, ketika Melisa kelelahan menangis dan merintih, mereka berdua dengan langkah sempoyongan dan dengan botol bir di tangan masuk kembali ke dalam sel Melisa. Mereka menendang tubuh Melisa agar terbangun dan mereka mulai memperkosanya lagi. 

Sekarang Polantas menyodomi Melisa sementara Sersan berbaring di bawah Melisa dan memasukkan batang kemaluannya ke dalam kemaluan Melisa. Kemudian mereka berganti posisi. Mereka juga menyiksa Melisa dengan memasukkan botol bir ke dalam liang kemaluan dan anusnya sementara batang kemaluan mereka dimasukkan ke mulut Melisa. 

Mereka terus berganti posisi dan Melisa terus menerus menjerit dan menjerit hingga akhirnya ia kelelahan dan tak sadarkan diri. Melihat itu polisi-polisi tersebut hanya tertawa terbahak-bahak meninggalkan tubuh Melisa yang memar-memar dan belepotan sperma dan bir. Keesokan paginya, Sersan masuk dan membuka sel kami.

"Kalian boleh pergi."

Saya membantu Melisa mengenakan pakaiannya. Tubuhnya lemah lunglai berbau bir dan sperma-sperma kering masih menempel di tubuhnya. Kami pergi dari kantor polisi itu dan akhirnya sampai ke rumah Melisa. 

Kemudian saya membersihkan tubuh Melisa dan menidurkannya. Ketika saya tinggal, saya mendengar ia merintih, "Jangan Pak, ampun Pak, sakit... ampuunn... sakiiit...".




#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Learn More
Accept !